Bank Indonesia (BI) menegaskan akan meningkatkan kewaspadaannya
jelang perhelatan politik yang dilakukan di Indonesia, yaitu Pemilukada
yang akan dilaksanakan serentak pada 9 Desember 2015.
Gubernur Bank Indonesia, Agus DW Martowardojo menegaskan, peningkatan kewaspadaan itu terutama dalam maraknya peredaran uang palsu oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Maraknya peredearan uang palsu ini sudah menjadi tren khusus di Indonesia, dimana setiap kali perayaan pemilu peredaran semakin meningkat. Hal ini berdasarkan hasil temuan BI pada perayaan-perayaan sebelumnya.
Terlebih lagi, pemilukada ini melibatkan masyarakat-masyarakat di
daerah yang notabene masih minim pengetahuan mengenai cara membedakan
uang palsu dan uang asli.
Demi mengantisipasi hal itu, hari ini Bank Indonesia menandatangani nota kesepakatan dengan Kejaksaan Agung untuk dapat berjalan bersama dalam pencegahan beredarnya uang-uang palsu ini.
Sebelumnya, BI mengungkapkan bahwa rasio peredaran uang palsu pada 2015 ini mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan 2014 lalu.
Di tahun ini, jumlah uang palsu yang ditemukan oleh Bank Indonesia mencapai 15 lembar uang dalam setiap 1 juta lembar uang. Sedangkan di tahun lalu, jumlah uang palsu yang ditemukan tercatat hanya 12 lembar uang palsu dalam setiap 1 juta lembar uang.
"Uang palsu rasio 15 lembar per satu juta. Jadi rasionya kami ukur, jadi membanding jumlah dengan asli," jelas Deputi Gubernur BI, Ronald Waas.
Ia pun mengimbau kepada masyarakat untuk waspada dengan kenaikan peredaran uang palsu tersebut. Apalagi menjelang Lebaran biasanya juga terjadi kenaikan jumlah uang palsu yang ditemukan.
Agar tak mudah tertipu, Ronald melanjutkan, uang palsu yang beredar ini sebenarnya mudah terdeteksi dengan cara 3D yakni dilihat, diraba dan diterawang.
Untuk mengantasipasi peredaran uang palsu, Ronald mengatakan telah menjalin kerja sama dengan pihak Kepolisian. Menurutnya, meningkatkan rasio peredaran uang palsu karena aparat melakukan penindakan sebelum uang itu sempat beredar ke masyarakat. "Dan atas kerjasama polisi kenapa jumlah besar karena banyak menemukan yang belum beredar," katanya.
Gubernur Bank Indonesia, Agus DW Martowardojo menegaskan, peningkatan kewaspadaan itu terutama dalam maraknya peredaran uang palsu oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Maraknya peredearan uang palsu ini sudah menjadi tren khusus di Indonesia, dimana setiap kali perayaan pemilu peredaran semakin meningkat. Hal ini berdasarkan hasil temuan BI pada perayaan-perayaan sebelumnya.
Demi mengantisipasi hal itu, hari ini Bank Indonesia menandatangani nota kesepakatan dengan Kejaksaan Agung untuk dapat berjalan bersama dalam pencegahan beredarnya uang-uang palsu ini.
Sebelumnya, BI mengungkapkan bahwa rasio peredaran uang palsu pada 2015 ini mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan 2014 lalu.
Di tahun ini, jumlah uang palsu yang ditemukan oleh Bank Indonesia mencapai 15 lembar uang dalam setiap 1 juta lembar uang. Sedangkan di tahun lalu, jumlah uang palsu yang ditemukan tercatat hanya 12 lembar uang palsu dalam setiap 1 juta lembar uang.
"Uang palsu rasio 15 lembar per satu juta. Jadi rasionya kami ukur, jadi membanding jumlah dengan asli," jelas Deputi Gubernur BI, Ronald Waas.
Ia pun mengimbau kepada masyarakat untuk waspada dengan kenaikan peredaran uang palsu tersebut. Apalagi menjelang Lebaran biasanya juga terjadi kenaikan jumlah uang palsu yang ditemukan.
Agar tak mudah tertipu, Ronald melanjutkan, uang palsu yang beredar ini sebenarnya mudah terdeteksi dengan cara 3D yakni dilihat, diraba dan diterawang.
Untuk mengantasipasi peredaran uang palsu, Ronald mengatakan telah menjalin kerja sama dengan pihak Kepolisian. Menurutnya, meningkatkan rasio peredaran uang palsu karena aparat melakukan penindakan sebelum uang itu sempat beredar ke masyarakat. "Dan atas kerjasama polisi kenapa jumlah besar karena banyak menemukan yang belum beredar," katanya.

Belum ada tanggapan untuk "Jelang Pilkada Seretak BI Waspadai Peredaran Uang Palsu "
Post a Comment
Silahkan Isi Komentar, Tanggapan, Kritik atau Saran dari Anda untuk Para Pembaca Sekalian. Hindari Komentar yang Mengarah kepada Konflik SARA. Terima Kasih atas Partisipasi yang Anda Berikan kepada Kami.