Lalu, bayangkan sebuah panggung yang besar. Atau, sebuah alun-alun. Atau, sebuah stadion sepakbola! Di sana, semua goyang dangdut yang sudah ada, akan ada, atau diada-adakan, hadir semua. Tampil semua. Bumbui dengan kepala yang meliuk-liuk, lengkap dengan irama musick yang mendukung. Musik tarling ndak apa-apa. Padang pasir juga oke. Lalu shotting semua orang yang bergoyang masing-masing itu, rekam, dan masukkan ke dalam youtube. Anda, kini, akan mendapati sebuah fenomena “baru”: Harlem Shake ala goyang dangdut! Harlem Shake khas kita.
Apa itu Harlem Shake? Ah, ini pertanyaan konyol. Orang lain sudah bersuka-cita menyambut fenomena Harlem Shake, kok saya masih bertanya apa-itu-Harlem Shake. Bodohlah saya. Jelas-jelas Harlem Shake itu sebuah tren. Sebuah fenomena. Sebuah tarian yang cukup popular pada tahun 80an di sebuah kawasan bernama Harlem di New York dan sering digunakan dalam video musik. Tarian ini nampak lebih mudah, tidak seperti Gangnam Style yang sedikit rumit untuk dilakukan. Anda hanya perlu menggoyangkan bahu, pinggang dan tangan anda dengan pantas untuk melakukan Harlem Shake. Anda bebas bergoyang.
Itulah Harlem Shake. Kebebasan, itulah intinya. Seperti ketika anda menenggak anggur, lalu lupa segala-galanya. Anda bebas. Merdeka. Nikmat rasanya.
Pada tahun 2011, pemusik elektronik, Baauer telah menggunakan nama Harlem Shake sebagai tajuk lagu musik ciptaannya dan dua tahun selepas itu, lagu tersebut telah diguna pakai untuk tema video popular tarian Harlem Shake. Begitulah singkat ceritanya. Hingga demam tubuh karena masuk angin bertambah demam Harlem Shake. Di mana-mana.
Adilkah membandingkan Harlem Shake dengan demam Gangnam Style yang terjadi sebelumnya? Ini juga pertanyaan konyol. Siapa pun, dari belahan bumi mana pun, berhak menunjukkan kebolehannya. Bernyanyi dan menari. Bebas. Ekspresi itu bebas. Yang terpenting adalah kita menikmati apa yang kita lakukan. Kita senang dengan apa yang kita rasakan. Ini bukan persoalan adil atau tidak adil. Ini hanya persoalan selera. Seperti ketika saya tak bisa memaksa anda untuk membenci drama korea demi kecintaan pada sinetron Brahma Kumbara atas nama “budaya negeri kita!”
Bebas. Itulah kuncinya. Seperti pula pilihan, antara film koboi ala Barat atau film silat ala China. Yang satu boleh brutal tanpa perlu mengedepankan gaya dan seni berkelahi. Sedang yang lain boleh berkelahi dengan menggunakan jurus-jurus pencak atau seni bela diri.
Mungkin….sekali lagi mungkin, di tengah kegemparan hati yang mulai bertanya-tanya, demam apa lagi yang akan melanda dunia hingga mewabah di negeri ini setelah Gangnam Style dan Harlem Shake itu, hati kita yang merindu diam-diam bertanya: Kapan anak bangsa dari negeri ini bisa mempersembahkan sebuah seni, sebuah tari, sebuah goyang, atau sebuah apa, yang bisa mengguncangkan dunia? Kapan kita mempersembahkan pada dunia hingga di luar sana heboh dan demam gara-gara kita yang mengguncangkannya? Kapan kita tidak melulu berdiri di antrian belakang, sekedar menjadi penikmat dan penerus demam-demam yang datang dari luar sana??
Belum ada tanggapan untuk "“Harlem Shake” ala Goyang Dangdut"
Post a Comment
Silahkan Isi Komentar, Tanggapan, Kritik atau Saran dari Anda untuk Para Pembaca Sekalian. Hindari Komentar yang Mengarah kepada Konflik SARA. Terima Kasih atas Partisipasi yang Anda Berikan kepada Kami.