Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyebut PBB "bodoh" karena
mengkritisi kebijakannya dalam memerangi peredaran narkoba, dan berjanji
akan meneruskan kebijakan keras anti-narkobanya meski mendapatkan
kritikan dari banyak pihak termasuk Sekjen PBB Ban Ki-moon.
"Kenapa PBB sedemikian mudah mencampuri urusan republik ini? Hanya seribu orang saja (yang terbunuh)," kata Duterte menanggapi pernyataan Ban Juni lalu, yang menyebut kebijakan Duterte "ilegal dan menyalahi hak-hak dasar dan kebebasan", saat berpidato di acara peringatan hari jadi Kepolisian Filipina ke-115, Rabu (17/08/2016).
Menurut dia, perang melawan kejahatan narkoba di Filipina "hanya membunuh 1.000 orang" dan PBB sebaiknya tidak ikut campur dalam urusan politik dalam negerinya.
Sebagai pemimpin yang memenangkan pemilu dengan sangat meyakinkan di bulan Mei lalu, Duterte bersumpah untuk melanjutkan kebijakan kontroversialnya membiarkan pembunuhan terjadi terhadap pemasok dan pengguna narkoba tanpa melewati proses persidangan.
PBB telah membuat "pernyataan yang sangat bodoh", ujar Duterte seperti dikutip the Guardian. "Apa masalahnya? ... Hanya seribu orang yang mati dan Anda memasukkan negara saya dalam kesulitan, dalam ancaman."
Sejak berkuasa pada 30 Juni lalu, Duterte menerapkan kebijakan yang memungkinkan polisi dan sipil membunuh pedagang narkoba, dan menurut data jaringan berita terbesar di Filipina, ABS-CBN, 1.054 orang tewas akibat kebijakan ini.
Duterte mendulang banyak dukungan pemilih karena menjanjikan perang yang lebih keras terhadap pemadat, dan itulah yang sedang ia lakukan, meskipun jalan yang dipilih adalah menggunakan tangan besi polisi dan kelompok bersenjata sipil.
"Kenapa PBB sedemikian mudah mencampuri urusan republik ini? Hanya seribu orang saja (yang terbunuh)," kata Duterte menanggapi pernyataan Ban Juni lalu, yang menyebut kebijakan Duterte "ilegal dan menyalahi hak-hak dasar dan kebebasan", saat berpidato di acara peringatan hari jadi Kepolisian Filipina ke-115, Rabu (17/08/2016).
Menurut dia, perang melawan kejahatan narkoba di Filipina "hanya membunuh 1.000 orang" dan PBB sebaiknya tidak ikut campur dalam urusan politik dalam negerinya.
Sebagai pemimpin yang memenangkan pemilu dengan sangat meyakinkan di bulan Mei lalu, Duterte bersumpah untuk melanjutkan kebijakan kontroversialnya membiarkan pembunuhan terjadi terhadap pemasok dan pengguna narkoba tanpa melewati proses persidangan.
PBB telah membuat "pernyataan yang sangat bodoh", ujar Duterte seperti dikutip the Guardian. "Apa masalahnya? ... Hanya seribu orang yang mati dan Anda memasukkan negara saya dalam kesulitan, dalam ancaman."
Sejak berkuasa pada 30 Juni lalu, Duterte menerapkan kebijakan yang memungkinkan polisi dan sipil membunuh pedagang narkoba, dan menurut data jaringan berita terbesar di Filipina, ABS-CBN, 1.054 orang tewas akibat kebijakan ini.
Duterte mendulang banyak dukungan pemilih karena menjanjikan perang yang lebih keras terhadap pemadat, dan itulah yang sedang ia lakukan, meskipun jalan yang dipilih adalah menggunakan tangan besi polisi dan kelompok bersenjata sipil.

Belum ada tanggapan untuk "Soal Anti-Narkoba, Presiden Filipina sebut PBB Bodoh "
Post a Comment
Silahkan Isi Komentar, Tanggapan, Kritik atau Saran dari Anda untuk Para Pembaca Sekalian. Hindari Komentar yang Mengarah kepada Konflik SARA. Terima Kasih atas Partisipasi yang Anda Berikan kepada Kami.