Dalam waktu dekat, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dikabarkan akan kembali
mengunjungi Banten dan menginap di rumah warga di Banten Selatan,
tepatnya di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak.
"Saya laporkan juga soal pabrik Semen Merah Putih, kemungkinan Pak Presiden Jokowi akan menginap," kata Gubernur Banten, Rano Karno, di Kota Serang, Rabu (13/07/2016).
Tak hanya itu, agenda lainnya pun telah menanti mantan Gubernur DKI Jakarta sekaligus Walikota Solo ini, yakni, mengunjungi Suku Baduy di Desa Leuwi Damar, Kabupaten Lebak.
"Selain agenda kesehatan, Pak Presiden bilang ingin datang ke Baduy juga, cuma pas saya tanya Baduy Dalam atau Baduy Luar, bingung. Emang ada dalam dan luar katanya, yah paling nanti di Baduy Luar," tegasnya.
Kedatangan presiden yang dikenal dekat dengan rakyat ini di gadang-gadang untuk mencanangkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. Namun waktu tepat nya hingga kini belum diketahui. Karena masih menunggu kepastian dari pihak Istana Negara.
"Nanti ada desa binaan, tapi tempatnya dimana saya belum tahu," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten, Muhammad Yanuar, ditemui ditempat yang sama, Rabu (13/07/2016).
Terkait dengan rencana Jokowi untuk bermalam di Bayah, sebenarnya ada sejarah penting di daerah tersebut. Bung Karno pernah menapakkan jejaknya pada awal 1944 di Bayah. Di sana, sejak Februari 1943 hingga Maret 1944 tengah dibangun jalur kereta api sepanjang 89 kilometer dari Saketi di Pandeglang menuju tambang batu bara di Bayah, Banten Selatan.
Menurut sejarawan Peter Kasenda dari Universitas Indonesia, kehadiran Bung Karno di Bayah untuk mendukung proyek milik Jepang. Dukungan itu sebagai bagian lobinya kepada Jepang karena dianggap lebih menjanjikan ketimbang Belanda soal kemerdekaan. Sukarno juga punya kekaguman tersendiri pada Jepang, yang dalam waktu cukup singkat bisa menaklukkan Belanda. Dia melihat kedatangan Jepang di Indonesia sebagai pintu masuk menuju kemerdekaan.
"Sukarno juga bersahabat cukup baik dengan penguasa Jepang pertama, yaitu Jenderal Hithosi Imamura, mereka lalu bekerja sama."
Selain Sukarno, ada tokoh pergerakan Tan Malaka, yang menyamar dengan nama Ilyas Hussein selama program romusa di Bayah. Hal itu tertuang dalam biografi Tan Malaka bertajuk Pergulatan Menuju Republik, yang ditulis sejarawan Belanda, Harry A. Poeze.
Menurut Poeze, Ilyas alias Tan sempat terlibat perdebatan dengan Sukarno. Pidato Soekarno bahwa Indonesia bersama Jepang akan mengalahkan Sekutu dan setelah itu Jepang memberikan kemerdekaan buat Indonesia dibantah Tan Malaka. Itulah perbedaan sikap kedua pemimpin, pejuang yang sama-sama mencita-citakan kemerdekaan Indonesia.
"Saya laporkan juga soal pabrik Semen Merah Putih, kemungkinan Pak Presiden Jokowi akan menginap," kata Gubernur Banten, Rano Karno, di Kota Serang, Rabu (13/07/2016).
Tak hanya itu, agenda lainnya pun telah menanti mantan Gubernur DKI Jakarta sekaligus Walikota Solo ini, yakni, mengunjungi Suku Baduy di Desa Leuwi Damar, Kabupaten Lebak.
"Selain agenda kesehatan, Pak Presiden bilang ingin datang ke Baduy juga, cuma pas saya tanya Baduy Dalam atau Baduy Luar, bingung. Emang ada dalam dan luar katanya, yah paling nanti di Baduy Luar," tegasnya.
Kedatangan presiden yang dikenal dekat dengan rakyat ini di gadang-gadang untuk mencanangkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. Namun waktu tepat nya hingga kini belum diketahui. Karena masih menunggu kepastian dari pihak Istana Negara.
"Nanti ada desa binaan, tapi tempatnya dimana saya belum tahu," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten, Muhammad Yanuar, ditemui ditempat yang sama, Rabu (13/07/2016).
Terkait dengan rencana Jokowi untuk bermalam di Bayah, sebenarnya ada sejarah penting di daerah tersebut. Bung Karno pernah menapakkan jejaknya pada awal 1944 di Bayah. Di sana, sejak Februari 1943 hingga Maret 1944 tengah dibangun jalur kereta api sepanjang 89 kilometer dari Saketi di Pandeglang menuju tambang batu bara di Bayah, Banten Selatan.
Menurut sejarawan Peter Kasenda dari Universitas Indonesia, kehadiran Bung Karno di Bayah untuk mendukung proyek milik Jepang. Dukungan itu sebagai bagian lobinya kepada Jepang karena dianggap lebih menjanjikan ketimbang Belanda soal kemerdekaan. Sukarno juga punya kekaguman tersendiri pada Jepang, yang dalam waktu cukup singkat bisa menaklukkan Belanda. Dia melihat kedatangan Jepang di Indonesia sebagai pintu masuk menuju kemerdekaan.
"Sukarno juga bersahabat cukup baik dengan penguasa Jepang pertama, yaitu Jenderal Hithosi Imamura, mereka lalu bekerja sama."
Selain Sukarno, ada tokoh pergerakan Tan Malaka, yang menyamar dengan nama Ilyas Hussein selama program romusa di Bayah. Hal itu tertuang dalam biografi Tan Malaka bertajuk Pergulatan Menuju Republik, yang ditulis sejarawan Belanda, Harry A. Poeze.
Menurut Poeze, Ilyas alias Tan sempat terlibat perdebatan dengan Sukarno. Pidato Soekarno bahwa Indonesia bersama Jepang akan mengalahkan Sekutu dan setelah itu Jepang memberikan kemerdekaan buat Indonesia dibantah Tan Malaka. Itulah perbedaan sikap kedua pemimpin, pejuang yang sama-sama mencita-citakan kemerdekaan Indonesia.

Belum ada tanggapan untuk "Ke Banten Selatan, Jokowi Akan Nginep di Rumah Warga"
Post a Comment
Silahkan Isi Komentar, Tanggapan, Kritik atau Saran dari Anda untuk Para Pembaca Sekalian. Hindari Komentar yang Mengarah kepada Konflik SARA. Terima Kasih atas Partisipasi yang Anda Berikan kepada Kami.