Bagaimana nasib 16.000 warga Timor Leste yang bekerja di Inggris?

www.idolafm.com
Sebagai bekas koloni Portugal, warga Timor-Leste diakui juga sebagai warga negara Portugal, dan berpaspor Portugal anggota dari Uni Eropa dan mereka pun berhak dan kemudian bekerja di Inggris.

Sejak Timor Leste merdeka dari Indonesia ribuan orang Timor telah bertolak ke Inggris untuk bekerja di pabrik-pabrik dan di sektor jasa.

Anak Lucia de Jesus telah bekerja di Inggris sejak 2013. Setiap dua sampai tiga bulan dia mengirimkan sekitar 10 juta rupiah.

Kiriman uang itu menjadi penyangga hidup, bahkan digunakan untuk membeli rumah keluarga dan sebuah sepeda motor.

Tingkat pengangguran di kalangan muda Timor Timur tergolong tinggi. Tak heran banyak anak muda bermimpi pergi ke Inggris. Dan orang-orang yang bisa pergi diantar ke bandara bagai melepas pahlawan.
Pada sebuah hari Minggu, bandara Dili penuh dengan banyak sanak keluarga yang berkerumun di sekitar gerbang dan pagar untuk melihat keluarga yang akan pergi bertolak dengan pesawat dalam menuju Inggris, nun jauh di sana, ribuan kilometer dari jalan-jalan berdebu kampung asal mereka.

Menyusul hasil referendum yang berbuah Brexit, keluarnya Inggris dari uni Eropa, banyak warga Timor di Inggris juga khawatir tentang situasi mereka. Apakah mereka akan diminta untuk menanggalkan status imigrasi mereka?

Celso Oliveira, orang Timor yang hidup di Inggris menulis di Forum Haksesuk blog bahwa masalahnya di kampung halaman pun tidak ada pekerjaan yang layak.

"Banyak buruh yang hanya mendapatkan $1 (sekitar Rp13 ribu) per hari. Pengangguran memburuk sementara pertumbuhan penduduk tetap tinggi. Banyak orang ingin mengubah hidup mereka," tulis Oliveira - dalam sebuah posting yang diterjemahkan oleh Global Voices.

Pemerintah Timor Leste melalui Kedutaan Besar Republik Demokrasi Timor Leste (RDTL) di London sudah menyurati pemerintah Inggris soal status tenaga kerja Timor Leste yang datang dengan paspor Portugal.
Surat sudah dikirim sebelum Inggris melakukan referendum yang hasilnya adalah keluar dari keanggotaan Uni Eropa (EU) pada tanggal 23 Juni lalu.

Sekretaris Negara Urusan Politik, Pelatihan dan Tenaga Kerja (SEPFOPE) Ilidio Ximenes Selasa (28/06/2016) di Caicoli-Dili, pemerintah Timor Leste belum mendapatkan jawaban dari Pemerintah Inggris.
Betapapun, katanya, ia yakin “hasil referendum Inggris, tidak akan memberi dampak negatif terhadap Timor Leste."

Pengamat dari Universitas Nasional Timor Lorosa’e (UNTL) Antonio Freitas, mengatakan bahwa pemrintah tak bisa hanya sekadar menunggu, dan harus lebih aktif.

"Pemerintah Timor Leste harus melakukan pertemuan segitiga bersama Pemerintah Portugal dan Pemerintah Inggris tentang nasib tenaga kerja asal Tmor Leste yang berpaspor Portugal di Inggris."

“Pemerintah Timor Leste harus mengambil langkah penting dan mengajukan proposal agar Inggris tetap menjamin hak keberadaan tenaga kerja mereka dan menjamin kelanjutan pekerjaan mereka di Inggris,” ujar Antonio.

Menteri Luar Negeri Timor Leste Hernani Coelho, mengatakan jumlah tenaga kerja Timor Leste di Inggris diperkirakan sekitar 16.000 orang.

Lucia de Jesus, ibu dari salah satu dari belasan ribu orang Timor Leste yang bekerja di inggris, mengikuti perkembangan keadaan di Inggris dengan harap-harap cemas.

"Saya hanya berdoa agar semua tenaga kerja di Inggris khususnya tenaga kerja Timor Leste yang berpaspor Portugal tetap bisa tinggal dan tidak dipermasalahkan, dan Pemerintah Timor Leste memperjuangakan keberadaan kamidi sini,” katanya.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Bagaimana nasib 16.000 warga Timor Leste yang bekerja di Inggris?"

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar, Tanggapan, Kritik atau Saran dari Anda untuk Para Pembaca Sekalian. Hindari Komentar yang Mengarah kepada Konflik SARA. Terima Kasih atas Partisipasi yang Anda Berikan kepada Kami.