Puasa ramadhan sudah berjalan lebih dari 20 hari. Beberapa hari lagi,
bulan yang luar biasa mulia ini akan meninggalkan keberkahannya dan
berganti menjadi bulan-bulan berikutnya di hitungan kalender Hijriah.
Kini jutaan umat Muslim di seluruh dunia sedang menunggu hari-hari
terakhir dari bulan Ramadhan 1436 H. Usai Ramadhan pergi, berhenti pula
rutinitas yang diwajibkan oleh Allah selama bulan ramadhan ini yaitu
ibadah berpuasa. Sesungguhnya, kewajiban puasa ramadhan itu memiliki
untaian makna dan keberkahan yang tak terhingga jumlahnya. Puasa
ramadhan menjadi titik tolak berputarnya arah kebiasaan hidup umat
Muslim menjadi ke titik 0. Puncaknya ada ketika bulan ramadhan memasuki
hitungan hari terakhir dan menjelang 1 Syawal nanti, momentum di mana
jiwa dan raga akan kembali ke hitungan 0. Bersih seperti terlahir
kembali.
Di antara beragam hikmah puasa yang dirasakan oleh umat
yang menjalankannya, hikmah yang mungkin paling membekas adalah puasa
memberikan kesempatan jiwa dan raga untuk melatih diri meninggalkan
sesuatu hal buruk yang sudah terlanjur menjadi kebiasaan di 11 bulan
sebelum ramadhan. Puasa Ramadhan
adalah momen untuk melatih diri menjaga nafsu dari segala sesuatu yang
sesungguhnya dihalalkan di bulan lain, seperti makan dan minum, bergaul
dengan suami-istri di siang hari, serta perkara lain yang memang
diperbolehkan. Namun puasa ada untuk melatih diri mengurangi intensitas
hal-hal tersebut.
Esensi atau makna yang membayang dalam setiap
niatan puasa yang kita ucapkan di kala waktu subuh hingga menjelang
matahari menghilang dari peredarannya di ufuk barat adalah untuk
mengontrol nafsu. Mengendalikan musuh terbesar yang ada justru dalam
diri sendiri: hawa nafsu.
Ada nilai-nilai hikmah perjuangan dalam
diri untuk melawan kehendak dan hawa nafsu. Berpuasa sesungguhnya bukan
hal yang mudah, bagi muslim mualaf yang baru menjalankan niatan puasa di
ramadhan tahun ini, tentu puasa ramadhan adalah tantangan yang luar
biasa. Bagaimana mungkin menahan gejolak nafsu dari sejak terbit hingga
terbenamnya matahari? Bahkan hanya untuk sekadar nafsu makan dan minum?
Apalagi sebagian muslim minoritas di wilayah Eropa harus menjalankan
ibadah puasa dengan durasi terpanjang sedunia, hingga 20 jam sehari!
Namun
semua nilai perjuangan tersebut punya hikmah besar yang akan mampu
dimaknai oleh Muslim yang ikhlas menjalankannya. Janji Allah untuk
perhitungan dan pahala terbaik bagi yang berpuasa telah jelas tercantum
dalam Al-Quran.
Terlebih bagi golongan anak-anak muda yang mampu
dengan apik dan ikhlas menjalankan puasa ramadhan sebagai momentum
pengendalian hawa nafsunya. Nilai perjuangannya akan semakin mulia di
sisi Allah, mengapa demikian?
Dalam sebuah Hadits Rasulullah
pernah berkata: “Sesungguhnya Allah betul-betul takjub kepada seorang
pemuda yang tidak ada “shabwah” pada dirinya. (HR. Ahmad)
Imam
Al-Munawiy dalam kitab Faidul Qadir menjelaskan maksud hadits in yaitu
Shabwah dapat bermakna sebagai “tak ada kecenderungan kepada hawa nafsu
karena baiknya cara pembiasaan dirinya terhadap kebaikan, dan kekuatan
tekadnya untuk menjauhkan diri dari segala keburukan”.

Belum ada tanggapan untuk "Ibadah Puasa Ramadhan dan Hikmah di balik PerintahNya"
Post a Comment
Silahkan Isi Komentar, Tanggapan, Kritik atau Saran dari Anda untuk Para Pembaca Sekalian. Hindari Komentar yang Mengarah kepada Konflik SARA. Terima Kasih atas Partisipasi yang Anda Berikan kepada Kami.