Ibadah Puasa Ramadhan dan Hikmah di balik PerintahNya

www.idolafm.com
Puasa ramadhan sudah berjalan lebih dari 20 hari. Beberapa hari lagi, bulan yang luar biasa mulia ini akan meninggalkan keberkahannya dan berganti menjadi bulan-bulan berikutnya di hitungan kalender Hijriah. Kini jutaan umat Muslim di seluruh dunia sedang menunggu hari-hari terakhir dari bulan Ramadhan 1436 H. Usai Ramadhan pergi, berhenti pula rutinitas yang diwajibkan oleh Allah selama bulan ramadhan ini yaitu ibadah berpuasa. Sesungguhnya, kewajiban puasa ramadhan itu memiliki untaian makna dan keberkahan yang tak terhingga jumlahnya. Puasa ramadhan menjadi titik tolak berputarnya arah kebiasaan hidup umat Muslim menjadi ke titik 0. Puncaknya ada ketika bulan ramadhan memasuki hitungan hari terakhir dan menjelang 1 Syawal nanti, momentum di mana jiwa dan raga akan kembali ke hitungan 0. Bersih seperti terlahir kembali.

Di antara beragam hikmah puasa yang dirasakan oleh umat yang menjalankannya, hikmah yang mungkin paling membekas adalah puasa memberikan kesempatan jiwa dan raga untuk melatih diri meninggalkan sesuatu hal buruk yang sudah terlanjur menjadi kebiasaan di 11 bulan sebelum ramadhan. Puasa Ramadhan adalah momen untuk melatih diri menjaga nafsu dari segala sesuatu yang sesungguhnya dihalalkan di bulan lain, seperti makan dan minum, bergaul dengan suami-istri di siang hari, serta perkara lain yang memang diperbolehkan. Namun puasa ada untuk melatih diri mengurangi intensitas hal-hal tersebut.

Esensi atau makna yang membayang dalam setiap niatan puasa yang kita ucapkan di kala waktu subuh hingga menjelang matahari menghilang dari peredarannya di ufuk barat adalah untuk mengontrol nafsu. Mengendalikan musuh terbesar yang ada justru dalam diri sendiri: hawa nafsu.

Ada nilai-nilai hikmah perjuangan dalam diri untuk melawan kehendak dan hawa nafsu. Berpuasa sesungguhnya bukan hal yang mudah, bagi muslim mualaf yang baru menjalankan niatan puasa di ramadhan tahun ini, tentu puasa ramadhan adalah tantangan yang luar biasa. Bagaimana mungkin menahan gejolak nafsu dari sejak terbit hingga terbenamnya matahari? Bahkan hanya untuk sekadar nafsu makan dan minum? Apalagi sebagian muslim minoritas di wilayah Eropa harus menjalankan ibadah puasa dengan durasi terpanjang sedunia, hingga 20 jam sehari!

Namun semua nilai perjuangan tersebut punya hikmah besar yang akan mampu dimaknai oleh Muslim yang ikhlas menjalankannya. Janji Allah untuk perhitungan dan pahala terbaik bagi yang berpuasa telah jelas tercantum dalam Al-Quran.

Terlebih bagi golongan anak-anak muda yang mampu dengan apik dan ikhlas menjalankan puasa ramadhan sebagai momentum pengendalian hawa nafsunya. Nilai perjuangannya akan semakin mulia di sisi Allah, mengapa demikian?

Dalam sebuah Hadits Rasulullah pernah berkata: “Sesungguhnya Allah betul-betul takjub kepada seorang pemuda yang tidak ada “shabwah” pada dirinya. (HR. Ahmad)

Imam Al-Munawiy dalam kitab Faidul Qadir menjelaskan maksud hadits in yaitu Shabwah dapat bermakna sebagai “tak ada kecenderungan kepada hawa nafsu karena baiknya cara pembiasaan dirinya terhadap kebaikan, dan kekuatan tekadnya untuk menjauhkan diri dari segala keburukan”.

Nilai Shabwah ini yang menjadi point penting yang dihargai perjuangannya oleh Allah SWT. Cara terbaik untuk melatihnya adalah dengan memaknai segenap jiwa dan raga dari hikmah ramadhan.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Ibadah Puasa Ramadhan dan Hikmah di balik PerintahNya"

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar, Tanggapan, Kritik atau Saran dari Anda untuk Para Pembaca Sekalian. Hindari Komentar yang Mengarah kepada Konflik SARA. Terima Kasih atas Partisipasi yang Anda Berikan kepada Kami.