Bagi Hatta, Baik Buruknya Bung Karno, Beliau Adalah Tetap Presidennya.

Soekarno-Hatta adalah proklamator kemerdekaan Indonesia yang sekaligus menjadi Presiden dan Wakil Presiden pertama tahun 1945. Seiring berjalannya waktu, hubungan Soekarno-Hatta semakin renggang hingga Hatta memilih mengundurkan diri dari Wapres tahun 1956. Meski secara politik berbeda haluan, namun hubungan pribadi antara dua pemimpin tetap terjalin akrab.
Soekarno adalah sosok revolusioner yang mampu menggerakkan rakyat, sementara Hatta adalah seorang pemikir yang memiliki gagasan untuk kemajuan bangsa. Dwi tunggal Sekarno-Hatta yang saling melengkapi  dianggap sangat cocok memimpin bangsa Indonesia saat itu. Namun dalam perjalanan waktu hubungan kedua founding fathers ini makin renggang dengan adanya perbedaan pandangan politik.

Pertentangan antara Soekarno-Hatta dalam kabinet Ali Sastroamidjojo II mengalami puncaknya yaitu dengan pengunduran diri Hatta dari posisi sebagai wakil presiden pada 1 Desember 1956. Pengunduran diri Bung Hatta dinilai merupakan kumpulan akumulasi dari beberapa konflik yang terjadi antara Bung Hatta dengan Soekarno yang tidak bisa diakhiri.

Meskipun dikenal dekat, Soekarno dan Hatta seringkali terlibat pertentangan pendapat. Itu terjadi sejak mereka aktif dalam organisasi pergerakan pemuda menentang kolonialisme Belanda hingga akhirnya Bung Hatta mengundurkan diri dari pemerintahan.

Tipikal keduanya memang berbeda. Soekarno adalah seorang solidarity maker yaitu seorang pemimpin yang pandai menarik simpati massa dan menggerakkan mereka untuk tujuan tertentu, sedangkan Hatta adalah seorang administrator yang ahli dalam penyelenggaraan negara.

Kedua tokoh ini mempunyai perbedaan pandangan satu sama lain, terutama strategi dan orientasi politik keduanya. Disatu sisi Bung Karno ingin melanggengkan dominasinya meneruskan perjuangan revolusi, pada sisi lainnya Bung Hatta telah berpikir maju untuk segera mengakhiri Revolusi menuju kearah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.

Setelah pengunduran diri Hatta, apakah kemudian hubungan kedua tokoh tersebut menjadi renggang? Rupanya tidak. Karena justru Soekarno yang memperkenalkan Hatta kepada Rahmi yang dikemudian hari menjadi istri Bung Hatta. 


Pada saat Bung Hatta sakit, Bung Karno selalu berpikir untuk perawatan terbaik bagi Bung Hatta . Bahkan bung Karno menawarkan untuk berobat ke luar negeri. Pada 1963, Hatta terkena stroke. Meski secara politik mereka 'bermusuhan', Sukarno datang ke rumah sakit untuk menjenguk. Ia mendesak agar Hatta mau berobat ke Swedia dengan biaya dari negara.

Hatta bersedia ke Swedia. Sukarno dan Hatta bertemu di Istana sebelum keberangkatan. Sebelum berpisah, Soekarno berujar ke sekretaris pribadi Hatta, I Wangsa Widjaja,"Wangsa, jaga baik-baik Bung Hatta."

Di Swedia, kondisi Hatta membaik. Setelah pulih, ia berkeliling ke sejumlah negara Eropa dan Amerika untuk berceramah. Tapi, di luar negeri, Hatta menahan diri untuk tak mengkritik Sukarno secara frontal.  Demikian juga ketika bung Karno sakit, bung Hatta menjenguk dan mendoakan kesembuhan bagi sahabatnya.

Keduanya beserta keluarga juga kerap makan bersama. Seperti diceritakan Hatta dalam "Bung Hatta Menjawab", pada awal tahun 1958, waktu itu Bung Karno mau pergi istirahat ke Tokyo. Dia bertemu dengan istri Bung Hatta dan mengatakan kepada Rahmi Hatta, "Oom mau pergi istirahat ke Tokyo. Kapan oom mau diundang makan sebelum berangkat?" Rahmi Hatta menjawab: "Nantilah, saya bicarakan dulu dengan Kang Hatta kapan dia sempat". Kemudian setelah dibicarakan, Bung Hatta menyampaikan: "baiklah, kalau memang akan ke Tokyo, singgalah ke rumah"


Meskipun terus menyampaikan kritik, hubungan Soekarno dan Hatta secara pribadi tetaplah erat. Pandangan politik boleh beda, tetapi keduanya tak pernah dendam dan tidak punya sifat pendendam. Dapat dikatakan setelah diluar pemerintahan, Hatta menjadi pengkritik pakling tajam dan sahabat paling dekat bung Karno. 


Bahkan, Bung Hatta-lah yang mewakili Bung Karno menjadi wali dalam pernikahan Guntur Sukarnoputra tahun 1968, sewaktu Bung Karno kritis dan berhalangan menghadiri akad nikah putra pertamanya. Bahkan, ketika Bung Hatta berkunjung ke Amerika dan mendapati Bung Karno diberondong cemooh dan hinaan, Bung Hatta tegas menukas, “Baik buruknya Bung Karno, beliau adalah Presiden saya!”

Lalu, pada Juni 1970, kesehatan Sukarno memburuk. Hatta menjenguk ketika Sukarno tengah tertidur. Tiba-tiba, mata Sukarno terbuka.
"Hatta, kamu di sini...," ujarnya.
"Ah, apa kabarmu, No?"
Sukarno menjawab dengan lemah,"Hoe gaat het met jou (apa kabar)?"
Hatta terdiam, memegang tangan Sukarno. Air matanya berlinangan.

Sukarno mencari-cari kaca mata, ingin melihat Hatta dengan lebih jelas. Ia mencoba bicara meski dengan susah payah. Hatta tetap terdiam, coba menahan kesedihan meski gagal.
Dua hari kemudian, 21 Juni 1970, Sukarno wafat.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Bagi Hatta, Baik Buruknya Bung Karno, Beliau Adalah Tetap Presidennya."

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar, Tanggapan, Kritik atau Saran dari Anda untuk Para Pembaca Sekalian. Hindari Komentar yang Mengarah kepada Konflik SARA. Terima Kasih atas Partisipasi yang Anda Berikan kepada Kami.