MAFIA CABAI SULIT DIBERANTAS

4b9f9da50cf2f358abdcd4a4321104f9_XL

JAMBI - Pemerintah Daerah Provinsi Jambi kewalahan mengatasi mafia cabai merah. Pasalnya, cabai yang dibeli pedagang dari Kerinci dijual ke Padang, atau cabai asal Jangkat dibeli pedagang Lubuk Linggau. Namun malam harinya, cabai tersebut dijual kembali ke Pasar Angsoduo, bahkan harga cabai Kerinci yang notabene sentra cabai merah, sama dengan di Jambi.

“Kami heran juga bingung mengapa harga cabai di Kerinci sama dengan harga cabai di Kota Jambi. Namun ketika pasokan melimpah, jika harga cabai di Kota Jambi Rp 20.000/kg maka di Kerinci paling tinggi hanya Rp 10.000,” ujar Kabag Ekonomi Pembangunan Setda Kota Sungai Penuh, Sofiansori, pada rapat koordinasi TPID se-Provinsi Jambi, di Kantor Gubernur Jambi Telanaipura, kemarin (12/12).

Menurutnya, melonjaknya harga cabai itu disebabkan ada mafia yang bermain dan sengaja. Mereka menahan stok, sehingga terjadi kelangkaan. Sejauh ini, pemerintah daerah tidak bisa melakukan monopoli harga cabai, karena pemerintah tidak boleh berdagang. “Bahkan pedagang membeli cabai pada petani ketika masih hijau dengan sistem ijon,” ujarnya.

Kepala Seksi Bina Usaha dan Produksi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi, M. Zaini, mengaku, pihaknya telah melakukan penelusuran dan mencari solusi guna mengatasi kelangkaan cabai merah. “Kita temui monopoli yang dilakukan pemasok, sehingga terjadi kelangkaan. Dampaknya harga cabai melambung tinggi,” ujarnya.

Menurutnya, kebutuhan cabai untuk Kota Jambi mencapai 25 ribu ton per tahun, sedangkan kemampuan produksi hanya 22 ribu ton. Sehingga terjadi kekurangan dan harus dipasok dari Pulau Jawa sebanyak 3.000 ton. Namun masalahnya, cabai yang dihasilkan petani di beberapa sentra tidak dijual ke Jambi, melainkan keluar daerah. “Jadi kita harus mendatangkan cabe dari luar daerah,” ungkapnya.

Untuk saat ini, sebagian besar cabai dipasok dari Pulau Jawa, Medan dan Lubuk Linggau. Situasi di sentra juga mengalami gagal panen akibat musim kemarau, sehingga produksi berkurang. “Harga cabai merah sempat turun, namun hari ini kembali naik dari Rp 40.000 menjadi Rp 60.000/kg,” ujarnya.

Menanggapi masalah itu, Sekda Provinsi Jambi, Ridham Priskap, selaku Ketua Tim TPID Provinsi Jambi, menawarkan solusi untuk mengatasi melonjaknya harga cabai dengan membudidayakan cabai dalam pot. “Jika setiap rumah tangga menanam 10 batang cabai, Saya yakin harga cabai dapat dikendalikan,” ujarnya.

Melambungnya harga cabai merah mengakibatkan angka inflasi melejit. TPID telah berupa mencari solusi namun tidak bisa melakukan monopoli harga. Karena naik atau turunnya harga tergantung dari pasokan. Bahkan, untuk mengatasi kelangkaan cabai, pihaknya telah membuat mesin pengawet cabai di Kerinci dan di Kota Jambi. "Dengan demikian, Saya yakin ke depan harga cabai dapat dikendalikan," ujarnya, lagi.

Dinas Pertanian, menurutnya telah menyiapkan lahan seluas 39 hektare. Namun akibat musim kemarau dan terjadinya kenaikan harga BBM, menyebabkan pasokan tidak lancar.
 











Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "MAFIA CABAI SULIT DIBERANTAS"

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar, Tanggapan, Kritik atau Saran dari Anda untuk Para Pembaca Sekalian. Hindari Komentar yang Mengarah kepada Konflik SARA. Terima Kasih atas Partisipasi yang Anda Berikan kepada Kami.