Lakon “Nyonya-Nyonya Istana” Berirama Dangdut Koplo “Tjap Nyonya Any”

Episode pertama drama musikal “Nyonya-Nyonya Istana” yang dipentaskan di  Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (16/11/12) menjadi tontonan bombastis dan mengundang riuh tawa penonton.
Selama 3 jam, lakon yang mengkisahkan besarnya peran istri para petinggi negara dalam mempengaruhi kebijakan atau keputusan-keputusan kabinet ini dibawakan dengan apik, begitu jenaka oleh para pesohor Butet Kertaredjasa sebagai Presiden, Cak Lontong, Marwoto, Susilo Nugroho, Trio Gareng-Joned-Wisben hingga Yu Ningsi yang didapuk peran Ibu Negara.
Lakon yang yang digelar  16 dan 17 November di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki ini mengkisahkan, bahwa bapak pemimpin istana yang masa jabatannya akan segera berakhir karena secara konstitusi tidak bisa mencalonkan diri lagi. Kemudian, tercetuslah ide membentuk sebuah kabinet dengan nama “Kabinet Indonesia Bersatu Jilid Terakhir”.
Di penghujung kekuasanya, muncul sebuah isu, pemimpin istana sedang menyiapkan putra mahkota sebagai penggantinya. Bahkan beredar pula kabar, Si nyonya istana juga ingin tampil “nggajuli” (menggantikan) suaminya.
Namun, para “nyonya-nyonya di istana” yang selama ini berperan sebagai pendamping para suami-suaminya yaitu para menteri, pun tak mau kalah dan ketinggalan. Mereka juga ikut ambil bagian meramaikan usaha meraih ambisi duduk di tampuk tertinggi di pemerintahan.
Sama seperti lakon-lakon sebelumnya, Nyonya-Nyonya Istana juga memadukan fragmen cerita kondisi aktual di tanah air dengan komedi, tari dan musik.
Di bagian-bagian tertentu, alunan musik khas Pantura, yaitu Dangdut Koplo, ditonjolkan. Sehingga nuansa yang menggambarkan situasi ‘koplo’ (edan) terasa begitu kuat.
Sederetan kaum sosialita Jakarta seperti Jais Darga, Vivi Yip, Cicilia King, F. Nadira, Amie Ardhini, dan Flora Simatupang ikut mendukung lakon ini dengan peran mereka sebagai nyonya-nyonya istana yang haus materi dan kekuasaan.
Menurut Agus Noor sang penulis cerita, kisah Nyonya-Nyonya Istana menggambarkan bagaimana sosok perempuan banyak menentukan sebuah keputusan.
Ada adegan dimana keputusan-keputusan penting justru tidak dihasilkan dalam bidang kabinet tapi di arisan para nyonya. Dan di sisi lain, terlihat bahwa pemimpin berada pada posisi yang lemah, tak ada di saat penting dan diperlukan.
“Saya Pengin gambarkan kehidupan di republik ini. Terutama satu tesis tentang keputusan politik yang ditentukan di luar kekuasaan. Saya membayangkan peran-peran domestik perempuan tak bisa diabaikan,” kata Agus Noor ditemui usai pagelaran lakon Nyonya-Nyonya Istana di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jumat (16/11).
Pertunjukan ini masih bisa disaksikan pada hari Sabtu (17/11) di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki pada pukul 14.00 WIB dan 20.00 WIB dengan tiket yang dijual mulai dari harga Rp100 ribu hingga Rp500 ribu.
Rangkaian Indonesia Kita yang digagas oleh trio Butet Kertaredjasa, Djaduk Ferianto dan Agus Noor ditutup dengan lakon keempatnya yang berjudul Nyonya-Nyonya Istana dan kali ini dibantu oleh Hanung Bramantyo sebagai sutradara.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Lakon “Nyonya-Nyonya Istana” Berirama Dangdut Koplo “Tjap Nyonya Any”"

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar, Tanggapan, Kritik atau Saran dari Anda untuk Para Pembaca Sekalian. Hindari Komentar yang Mengarah kepada Konflik SARA. Terima Kasih atas Partisipasi yang Anda Berikan kepada Kami.